Skip navigation

Kawan, libur lebaran 1431 H kali ini ada satu cerita yang mungkin bisa saya ceritakan disini. Cerita ini tentang kehidupan kita sehari-hari dan mungkin pernah kita alami.

Begini ceritanya, salah satu adik dari simbah saya yang sudah almarhum beberapa hari setelah lebaran 1430 H kemarin adalah seorang laki-laki yang hampir seluruh hidupnya bekerja sebagai penarik becak di kota Semarang. Beliau tinggal di salah satu desa di Kabupaten Demak. Keluarga yang bahagia dengan istri dan putra putri nya. Saat almarhum masih hidup saya hanya bertemu almarhum setahun sekali pas di waktu lebaran, satu kali almarhum datang ke rumah saya pada saat orang tua saya berangkat haji 2002 yang lalu. Yang saya ingat adalah almarhum datang ke rumah dengan niat melepas dan mendoakan orang tua saya berangkat haji, tapi almarhum tak tahu kalau ternyata orang tua saya sudah berangkat hari kemarin alias ngga ketemu.

Kembali ke cerita awal, dari penghasilan almarhum yang sebagai tukang becak itu, tentulah pas pasan sehingga almarhum perlu beberapa minggu untuk mengumpulkan uang dan dibawa pulang ke rumah. Dengan kerja keras dan hidup prihatin, almarhum tinggal di masjid kalau malam sembari membantu membersihkan masjid tempat almarhum menumpang tidur, tak jarang pula almarhum tinggal di dalam becaknya kalau malam. Permasalahan timbul ketika seumur hidupnya, istri almarhum tak pernah merasa puas dengan hasil jerih payahnya. Tiap almarhum pulang ke rumah, uang yang almarhum bawa pulang selalu dihabiskan si istri dengan berbelanja dan membeli apa yang si istri inginkan, tentu almarhum hanya mengelus dada melihat kelakuan istrinya. Lebaran tahun lalu almarhum sakit lalu hingga meninggal karena sepuh, dan si istri tetap pula tak acuh mengurusi suaminya mulai dari sakit sampai meninggal, gurat kesedihan tak terlihat dari wajah sang istri. Selepas kepergian almarhum, sang istri masih sempat dua kali pergi ke kota kecamatan untuk berbelanja dan bersenang-senang.

Sampai satu kejadian menimpa dirinya, tepat seratus hari kepergian almarhum, sang istri menjadi gila dalam arti kata yang sebenarnya. Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya dan sampai saat saya menulis cerita ini sang istri masih dalam ketidakwarasannya. Entah apa yang terjadi pada sang istri kenapa tiba-tiba menjadi seperti itu.

Satu pesan moral yang ingin saya bagi dari kisah nyata ini adalah sudah sepatutnya seorang istri melaksanakan kewajibannya melayani suami dengan sepenuh hati dalam suka maupun duka, tak mengeluh dan tetap berbakti kepada suami. Apa yang terjadi pada sang istri mungkin teguran dari Gusti Allah kepada beliau wallahualam.

Kawan, mungkin hal ini jamak terjadi di sekeliling kita sehingga bisa membuat kita “eling lan waspada.”

Salam

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.